Tahun Hutan Internasional dan REDD+, Kesempatan Kemenhut Memperkuat Komunikasi

14 April 2011

Bila dijalankan dengan benar, skema REDD berguna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan mengurangi kemiskinan

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempergunakan momentum Tahun Hutan Internasional 2011 dan skema pengurangan emisi deforestasi dan degradasi hutan, atau REDD+, untuk mempererat komunikasi dengan publik dalam usahanya membenahi sektor kehutanan.

REDD+ perlu dipromosikan kepada masyarakat, baik mengenai strategi, kerja sama antara pemerintah dengan organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, maupun pemangku kepentingan lainnya, kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam wawancara baru-baru ini.

“Masyarakat sudah memahami bahwa perubahan iklim memang benar-benar terjadi dan nyata adanya,” kata beliau. Pemahaman mengenai REDD+ merupakan langkah awal untuk menggalang dukungan publik dalam rangka implementasi REDD+. Dukungan semua pihak tersebut menjadi sangat penting bagi Indonesia mengingat sektor tata guna lahan dan kehutanan, yang sering disingkat sebagai LULUCF, menyumbangkan 47 rata-rata 59,6 persen antara tahun 2000 – 2005 dari total emisi negara ini sedangkan kebakaran gambut menyumbangkan 13 rata-rata 19,6 persen.

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisinya sekurang-kurangnya 26 persen, di mana 14 persen berasal dari sektor kehutanan, atau bahkan 41 persen dengan dukungan dunia internasional dari tingkat business-as-usual pada tahun 2020. Salah satu tantangan REDD+ adalah bagaimana membuat skema tersebut dipahami oleh semua pihak terkait, termasuk seluruh jajaran staf Kemenhut sendiri.

Upaya Kemenhut Mengkomunikasikan REDD

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kemenhut, baik secara internal maupun eksternal, untuk mengkomunikasikan REDD+. Kemenhut secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas perkembangan REDD+ serta mempublikasikan newsletter agar seluruh jajarannya memiliki persepsi yang sejalan mengenai skema ini. Untuk memperkuat peran kelembagaan dalam menyusun strategi dan implementasi REDD+, juga telah dibentuk Komite Pengarah dan Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan, di samping kegiatan terkait dari unit kerja Kemenhut. Kelompok Kerja ini berperan antara lain memberikan masukan tentang kebijakan, strategi dan program, mengelola data dan informasi adaptasi, mitigasi, dan alih teknologi perubahan iklim serta membantu Menteri Kehutanan dalam melakukan evaluasi terhadap kebijakan terkait perubahan iklim di Kemenhut.

Selain itu, Kemenhut juga secara aktif mengkomunikasikan perkembangan REDD+ kepada lembaga-lembaga terkait, publik dan media melalui berbagai jalur seperti siaran pers tentang kemajuan pembuatan strategi dan pelaksanaan REDD di Indonesia, sosialisasi publik di tingkat nasional dan regional, dan berbagai lokakarya dan seminar terkait REDD+ . Sepanjang tahun 2011, kementerian ini bekerja sama dengan pihak-pihak terkait juga telah melaksanakan berbagai forum dialog tentang isu-isu REDD, misalnya mengenai mekanisme imbal jasa lingkungan, hasil-hasil penelitian, serta pengaman REDD.

Situs web REDD-I

Kementerian Kehutanan juga sedang mengembangkan sebuah situs web tentang REDD dalam Bahasa Indonesia, yang mengisi kekosongan akan informasi tentang hutan, perubahan iklim dan REDD+ dengan maksud agar informasi mengenai isu-isu ini dapat dengan mudah dipahami masyarakat luas. Para praktisi dan masyarakat bisa mendapatkan informasi hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA) dan Center for International Forestry Research (CIFOR), bahkan mengunduh publikasinya secara gratis.

Situs web ini juga menyediakan informasi tentang undang-undang, berita, terminologi, proyek percontohan serta kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan REDD. Seiring dinamika perkembangan REDD+ di Indonesia, situs web ini akan terus diperbaharui dengan informasi terbaru. Melalui berbagai jalur komunikasi publik ini, diharapkan akan ada masukan positif dari berbagai pihak baik mengenai pembuatan kebijakan yang tepat maupun strategi di lapangan.

Momentum lain yang mendukung ditingkatkannya komunikasi dengan publik serta perlindungan hutan adalah ditetapkannya tahun 2011 sebagai Tahun Hutan Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Sebagai pelopor REDD+, Indonesia akan terus berupaya menyelamatkan hutan tropis yang tersisa sambil terus mengupayakan pemulihannya dan tahun ini kita canangkan sebagai tahun untuk memperkuat perlindungan pengelolaan kawasan konservasi kita,” kata Menhut. Selain itu, Kemenhut akan melakukan inisiatif penanaman paling tidak 1 miliar pohon lagi, setelah berhasil menanam 1,3 miliar pohon di tahun 2010.

Link: http://redd-indonesia.org/berita/browse/2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s