Hutan Lestari, Uang Mengalir

Sumber : Kaltim Post

24 April 2011

Akhir pekan lalu, sejumlah media nasional, termasuk Kaltim Post diundang mengikuti workshop mengenai REDD+ di Hotel Santika Bogor. Kegiatan ini hasil kerjabareng sejumlah LSM dan lembaga berbasis lingkungan berskala internasional, di antaranya Recoft, ASFN, Cifor, UN REDD, USAID, dan RAFT. Tujuannya, memberikan pemahaman ke media tentang REDD lebih dalam.

Penting enggak sih? Bagi masyarakat perkotaan yang tak bersentuhan langsung dengan hutan mungkin menganggapnya “terlalu jauh” untuk dibicarakan. Bahkan warga Balikpapan yang sehari-hari hidup berdampingan dengan hutan mungkin hanya segelintir yang benar-benar peduli dengan kelestarian hutan.

Padahal, dampak dari baik buruknya hutan itu sendiri langsung dirasakan dalam aktivitas harian. Menghirup oksigen adalah contoh dasarnya. Singkatnya, dalam proses fotosintesis, pohon menghasilkan oksigen. Makanya, udara hutan sangat sejuk.

Kembali ke REDD. Ini merupakan singkatan dari Reducing Emissions from Deforestation and Degradation. Artinya, pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Namun makna sebenarnya, REDD ialah

sebuah mekanisme yang bertujuan untuk

memperlambat perubahan iklim dengan cara, negara maju membayar sejumlah negara berkembang agar menghentikan kegiatan penebangan atau perusakan hutannya. Yang menerima bayaran ialah negara yang telah meningkatkan kualitas hutannya pascaterdegradasi. Ada juga yang membahasakannya sebagai sistem jual beli carbon.

Sementara tanda ‘plus’ di REDD+, ialah menambahkan bahwa yang ikut dibayarkan juga adalah hutan konservasi dan pengelolaan hutan secara lestari, pemulihan hutan dan penghutanan kembali, serta peningkatan cadangan karbon hutan.

Bukan proyek mimpi. Tahun 2010 silam, Norwegia menyatakan siap mengelontorkan duit senilai US$ 1 miliar (setara dengan Rp 10 triliun) ke Indonesia untuk proyek tersebut. Hal ini ditandai MoU REDD antara Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan Menteri Lingkungan Hidup Norwegia Erik Solhein di Oslo, Norwegia.

“Tapi sampai sekarang, uangnya belum mengalir, karena sistem perhitungan jual beli karbon itu sendiri belum jelas. Meski Presiden RI membentuk Satgas REDD, tapi hingga saat ini, sejumlah daerah belum siap menerapkan REDD ini karena perlu diperjelas status dan kepemilikan lahan hutan,” Machfudh Chief Technical Advisor UN-REDD Indonesia.

Namun filosofi REDD, lanjut dia, bukanlah insentif. Namun bagaimana masyarakat diajak melestarikan hutan. Itu yang terpenting. Sebab tanpa berbicara uang pun, melestarikan hutan manfaatnya kembali ke masyarakat. “Jika pada saatnya nanti REDD sudah resmi ditetapkan, kan manfaatnya ganda. Lingkungan lestari, uangnya juga mengalir,” sebut Machfudh.(lhl)

Link : http://www.kaltimpost.co.i/index.php?mib=berita.detail&id=97784

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s