Menjual Taman Sebangau ke Pasar Karbon

Sumber : TEMPO Interaktif
16 Mei 2011
Oleh Anton William

Tangan Syaiful bergerak lincah mengendalikan kemudi speedboat menyusuri Sungai Sebangau yang meliuk-liuk. Tanaman pandan tumbuh rimbun mengapit kanan-kiri sungai yang airnya berwarna merah kehitaman itu. Sesekali ia menjelaskan tentang kondisi hutan yang mengapit sungai.

Warga Palangkaraya ini menjadi pengemudi taksi air sejak remaja hingga kini berusia 50 tahun. Selama itu pulalah ia menyaksikan perubahan yang terjadi pada kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Sebangau di Provinsi Kalimantan Tengah tersebut.

Sejak 1980, pengelolaan hutan diserahkan kepada 13 pengusaha yang memiliki izin hak penggunaan lahan (HPH). Mereka membangun kanal-kanal dari tengah hutan lahan gambut ini ke badan Sungai Sebangau untuk mengangkut kayu. Kebakaran hutan pada musim kering pun tidak terhindarkan.

Belakangan terjadi perubahan. “Sudah tiga tahun ini hutan ini terendam air,” tutur Syaiful saat ditemui Tempo pada akhir April lalu. Namun, ini menjadi berkah. Maklum, air yang merendam lahan gambut mencegah terjadinya kebakaran hutan.

Pembakaran hutan oleh pembalak liar marak kembali setelah pemerintah mencabut izin HPH pada 2002. Bukan apa-apa, kala itu tak ada kejelasan soal pengelolaan hutan. Alhasil, pengusaha nakal menebang kayu, lalu menghanyutkannya melalui kanal kecil yang terhubung ke Sungai Sebangau.

Musnahnya pohon merupakan ancaman bagi lahan gambut yang mengisi 80 persen dari luas kawasan hutan. Tanpa pohon, air tanah tak bisa ditarik ke atas untuk melembapkan gambut. Akibatnya, gambut menjadi mudah terbakar.

Sepanjang 2001-2007, hutan yang terbakar melebihi luas Provinsi DKI Jakarta. Kerusakan ekosistem ini mengganggu kehidupan satwa langka yang hidup di dalam kawasan tersebut.

Padahal, Taman Nasional Sebangau adalah rumah bagi flora dilindungi, seperti ramin (Gonystilus bancanus), jelutung (Dyera costulata), dan belangeran (Shorea belangeran). Lokasi ini juga menjadi tempat tinggal bagi 116 jenis burung, 35 jenis mamalia, dan 36 jenis ikan.

Diperkirakan sebanyak 6.000-9.000 orang utan (Pongo pygmaeus) menetap di kawasan ini bersama satwa dilindungi lainnya, seperti bekantan (Nasalis larvatus) dan bangau tong-tong (Leptoptilus javanicus).

Pada 2004, Kementerian Kehutanan mengakui kawasan hutan yang diapit Sungai Sebangau dan Sungai Kahayan itu sebagai Taman Nasional Sebangau. Daerah seluas 568.700 hektare atau setara dengan luas Provinsi Bali ini dialihkan fungsinya dari hutan produksi menjadi hutan konservasi.

Namun, dua tahun berikutnya ditemukan 586 ribu batang kayu yang hendak dikeluarkan dari kawasan. Belakangan terungkap bahwa kayu ilegal tersebut adalah sisa pembalakan liar sebelum 2004, yang hendak diselundupkan oleh pengusaha dengan mengucurkan dana kepada penduduk sekitar.

Menyadari kondisi ini, Balai Taman Nasional Sebangau banting setir dalam mengelola kawasan. Pemulihan dan pengawasan kawasan hutan harus mengikutsertakan masyarakat sehingga mereka bisa mendapatkan profesi alternatif dari Taman Nasional Sebangau.

Dalam kegiatan penanaman pohon, Balai melibatkan masyarakat dalam kegiatan pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan. Balai juga melibatkan masyarakat dalam pembuatan 428 dam yang membendung air dari kanal-kanal sisa pembalakan liar dan membanjiri lahan gambut.

Menurut Kepala Resor Mangkok Balai Taman Nasional Sebangau, Suli Septriani, hingga saat ini 50 warga telah dirangkul menjadi pekerja di Taman Nasional. “Sekarang pembalakan liar sudah jarang terjadi, begitu pula kebakaran hutan,” ujar Suli.

Pada 2007, bekerja sama dengan World Wildlife Foundation (WWF) Indonesia, Balai Taman Nasional mengajak perusahaan swasta dalam kegiatan penanaman pohon.

Program Newtrees ini menargetkan penanaman 400 pohon per hektare dengan biaya penanaman dan perawatan setiap pohon sebesar US$ 8 dalam jangka waktu lima tahun.

Menurut Program Manager WWF Indonesia untuk Provinsi Kalimantan Tengah, Rosenda Chandra Kasih, program Newtrees akan menjadi percontohan dalam proyek Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+).

Konsepnya, perusahaan menanam pohon di kawasan yang mengalami kerusakan untuk mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan dalam kegiatan bisnis. Oleh karena itu, program Newtrees mendapat perhatian penting hingga tahun depan. “Pada 2012, program ini akan ditawarkan kepada lebih banyak perusahaan,” ujar Rosenda.

PT Garuda Indonesia adalah perusahaan pertama yang mengikuti Program Newtress. Perusahaan ini menyumbang penanaman 100 ribu pohon untuk kawasan seluas 250 hektare. “Setiap penumpang yang terbang pada rute Jepang dan Australia berarti menanamkan satu pohon di Taman Nasional,” ujar Senior Manager Public Relation Garuda, Ikhsan Rosan.

WWF Indonesia memberikan fasilitas geotagging, yaitu setiap pohon memiliki koordinat GPS khusus sehingga perkembangan pohon bisa dilihat melalui citra satelit. Fasilitas ini selain mempermudah pengawasan juga memberi rasa kedekatan antara penyumbang dana dan Program Newtrees.

Meski telah melakukan penanaman pohon secara intensif mulai 2007, Balai Taman Nasional masih kewalahan dalam menangani sisa-sisa pembalakan liar dan kebakaran hutan. Hingga saat ini, baru 3.200 hektare lahan gambut yang bisa ditanami kembali.

Sepanjang tahun lalu, 2.000 hektare lahan bisa dipulihkan. Ini masih jauh karena 63.784 hektare lahan belum dipulihkan fungsinya.

Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Eivind Homme, yang meninjau Sebangau pada akhir April lalu, mengakui konsep pemulihan hutan yang ditawarkan Indonesia sangat baik. “Indonesia telah menunjukkan kepemimpinannya dalam program REDD+,” kata dia. Konservasi hutan dalam rangka pengurangan emisi karbon, berhasil jika potensi dari berbagai pihak bisa dijaring menjadi satu kekuatan tunggal.

Menurut Homme, Taman Nasional Sebangau menjadi kunci penting bagi kelanjutan proyek REDD+. Apa yang terjadi di Indonesia akan dijadikan pedoman dalam penyusunan regulasi perdagangan karbon dunia.

Link : http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/05/16/brk,20110516-334736,id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s