Indonesia Hentikan Pembukaan Hutan Primer

Sumber : WWF Indonesia

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Instruksi Presiden Jumat lalu yang berisi larangan pembukaan 64 juta hektar hutan primer dan lahan gambut yang kaya cadangan karbon serta penghentian pemberian izin baru selama dua tahun kedepan. Moratorium yang berlaku sejak diterbitkan tanggal 20 Mei tersebut, merupakan bagian dari komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada 2020 sebesar 26% dari skenario bisnis seperti biasa atau 41% dengan bantuan internasional -yang salah satunya didukung oleh Pemerintah Norwegia.

“Bagi WWF, pelarangan pembabatan dan pembukaan hutan primer dan lahan gambut selama dua tahun kedepan merupakan landasan yang kuat bagi Indonesia untuk menuju perekonomian rendah karbon,” jelas Dr. Efransjah, Direktur Eksekutif WWF-Indonesia.

April lalu Presiden Yudhoyono pada Business for the Environment Global Summitmengumumkan rencana pengurangan laju deforestasi dengan mengalokasikan pembangunan ekonomi di 30 juta kawasan yang telah terdegradasi. “Pemerintah dapat mulai fokus pada upaya nyata yang dibutuhkan untuk melindungi hutan sekunder yang memiliki cadangan karbon tinggi serta penting bagi keanekaragaman hayati dan nilai-nilai sosial,” lanjut Efransjah.

Berdasarkan analisis yang dibuat oleh WWF, moratorium tersebut hanya akan menambah perlindungan 14% hutan primer, karena mayoritas hutan primer di Indonesia telah dilindungi hukum sebagai kawasan konservasi. Lebih lanjut menurut analisis WWF, secara potensial, reduksi emisi dari penggunaan lahan, perubahan fungsi lahan dan kehutanan (LULUCF) bisa lebih besar apabila cakupan moratorium ini diperluas hingga hutan sekunder. “Dampak moratorium ini akan sangat terbatas karena pengurangan emisi karbon dari deforestasi hutan primer hanya berada pada kisaran 4 %,” kataNazir Foead, Direktur Kebijakan dan Pemberdayaan WWF-Indonesia.

Secara umum, moratorium ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk meningkatkan efektivitas kinerja sektor kehutanan, pengelolaan lingkungan hidup serta sistem perencanaan tata ruang berbasis ekosistem, terutama di kawasan yang alokasi penggunaannya tumpang tindih. WWF juga meminta Kementerian dan badan pemerintah terkait untuk menggunakan rentang waktu dua tahun ini melakukan perbaikan sistem perizinan bagi hutan tanaman industri, perkebunan dan pertambangan di hutan sekunder dan areal penggunaan lain (APL). Penguatan analisis nilai ekologis dan sosial yang terkandung pada hutan (delianasi mikro dan makro) serta kalkulasi stok karbon dalam AMDAL misalnya, akan dapat berkontribusi pada upaya tersebut, lanjut WWF.

“Kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya rentang waktu dua tahun ini untuk memperkuat komitmen yang telah dibuat oleh Indonesia, sehingga menjadi katalis bagi keterlibatan masyarakat internasional dalam upaya mengatasi masalah deforestasi”, jelas Dr. Efransjah. “Pemerintah Norwegia dan negara-negara donor lainnya harus siap untuk mendukung upaya Indonesia di bidang konservasi, pengelolaan yang berkelanjutan, dan perlindungan pada hutan yang memiliki nilai penting bagi dunia. “

## ##

Untuk informasi lebih lanjut:

* Nyoman Iswarayoga, Climate & Energy Program Director, WWF-IndonesiaPhone: +62 811 1284868, niswarayoga@wwf.or.id
* Nazir Foead, Director of Governance, Community & Corporate Engagement, WWF-Indonesia +62 811 977604, nfoead@wwf.or.id

Catatan untuk Editor:
INPRES No. 10/2011 bisa di unduh di: http://assets.wwfid.panda.org/downloads/inpres_moratorium.pdf

Presiden Yudhoyono pada pertemuan G-20 di Pittsburg 2009 mencanangkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 41 % dengan dukungan internasional atau 26% dengan mengunakan sumber daya dalam negeri. Sektor kehutanan dapat berkontribusi sampai dengan 54% dari target reduksi ini.

Pidato Presiden Yudhoyono pada Business for the Environment Global Summit bisa di download di http://www.presidensby.info/DokumenUU.php/608.pdf.

Tentang WWF
WWF adalah salah satu organisasi lingkungan independen terbesar dan paling disegani di dunia, dengan hampir 5 juta supporter dan jaringan global yang bergerak di lebih dari 100 negara. Misi WWF adalah untuk menghentikan degradasi alam dan membangun masa depan dimana manusia dapat hidup secara harmonis dengan alam, melalui konservasi keragaman biologis dunia, penggunaan energi yang dapat diperbaharui, dan pengurangan polusi dan konsumsi yang tidak bijak, Kantor pusat WWF-Indonesia di Jakarta mengepalai 25 kantor lapangan di seluruh Indonesia. Visi WWF-Indonesia adalah “Konservasi keragaman hayati Indonesia demi kesejahteraan generasi saat ini dan masa datang”.

Link : http://www.wwf.or.id/?22501/Indonesian-decree-to-halt-primary-forest-loss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s