Hutan Masih Dibabat

Sumber : Kompas Cetak
09 Juni 2011

Di tengah Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 yang masih dipersoalkan, Greenpeace mengeluarkan laporan praktik pembabatan hutan alam yang masih mengancam. Mereka juga mengampanyekan secara global bahan baku kemasan mainan anak-anak yang mengancam keberlanjutan hutan alam Sumatera.

”Penghancuran hutan alam sekarang masih berlangsung,” kata juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, pada konferensi pers ”Barbie Dibungkus dengan Skandal Perusakan Hutan” di Jakarta, Rabu (8/6).

Barbie adalah produk mainan anak-anak yang diproduksi perusahaan Mattel di Amerika Serikat. Kemasan Barbie diteliti di laboratorium di Indonesia dan AS. Kemasan terbuat dari campuran kayu hutan alam tropis yang diproduksi Asia Pulp and Paper (APP).

Hasil investigasi Greenpeace itu diumumkan serentak di 20 negara, termasuk AS dan Eropa. Greenpeace mendesak perusahaan global menghentikan pembelian kertas dari perusahaan perusak hutan tropis.

”Selama ini pabrik kemasan yang digunakan produk Barbie hanya di dua negara, yaitu Indonesia dan China,” kata Bustar.

Juru bicara Mattel, Jules Andres, seperti dikutip The Telegraph, mengaku terkejut dengan reaksi Greenpeace. Padahal, mereka bisa menggunakan cara komunikasi yang lain.

Keterkejutan juga diungkapkan Managing Director Sustainability and Stakeholder Engagement APP Aida Greenbury. ”Saya terkejut mereka menyerang kami. Kami bangga menggunakan kertas daur ulang dan terus berupaya mendorong penggunaannya,” katanya seperti dikutip kantor berita AFP.

Tidak serius

Bustar mengatakan, pemerintah tidak serius menyelamatkan hutan alam primer dan lahan gambut. Ia menunjukkan salah satu perusahaan kertas dan bubur kertas terbesar di Indonesia yang masih menggunakan kayu dari hutan alam hingga tahun 2015.

Dalam Instruksi Presiden (Inpres) No 10/2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut disebutkan, adanya pengecualian bagi pemanfaatan atau penggunaan kawasan hutan alam sepanjang izin di bidang usahanya itu masih berlaku.

”Pemerintah agar mengkaji keputusan ini. Mengkaji ulang Inpres Nomor 10 Tahun 2011 bukan berarti pencabutan konsesi,” kata Bustar.

Spesialis sistem informasi geografi Greenpeace, Kiki Taufik, mengatakan, inpres itu memiliki kejanggalan pada peta indikatif penundaan izin baru yang dilampirkan. Luas lahan gambut disebutkan 4,4 juta hektar. Data lain pemerintah menyebut lahan gambut masih 21,5 juta hektar.

Alihkan ke lahan kritis

Zulfahmi, juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, menegaskan, pemerintah agar serius melindungi hutan alam dan lahan gambut tersisa. Semua izin konsesi yang merusak agar dikaji ulang dan dialihkan usahanya di lahan kritis yang saat ini mencapai 30 juta hektar. (NAW)

Link : http://cetak.kompas.com/read/2011/06/09/03131287/hutan.masih.dibabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s