Melestarikan Lingkungan

Sumber : Suara Karya
Oleh A Kardiyat Wiharyanto
Jumat, 10 Juni 2011

Kerusakan lingkungan sudah sampai tahap membahayakan hidup manusia. Salah satu faktor penting yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah pembabatan hutan. Sejak 1985, terjadi pembabatan hutan sebesar 1,6 juta hektar per tahun, dan sekitar sepuluh tahun kemudian meningkat menjadi 2,83 juta hektar per tahun. Saat ini, diperkirakan setiap hari lebih dari 83 miliar rupiah dirampok dari hutan Indonesia.

Selain pembabatan hutan, faktor lain yang merusak lingkungan adalah kemajuan ilmu pengetahuan. Munculnya pabrik-pabrik modern yang tidak memikirkan dampaknya berupa limbah pabrik, dengan sendirinya akan merusak lingkungan. Itu pun belum terpikirkan polusi pabrik yang mengotori udara yang sangat dibutuhkan banyak orang untuk bernafas.

Penerapan teknologi dalam pertanian juga mulai tampak dampaknya, terutama karena penggunaan-penggunaan pupuk kimia yang menyebabkan kehidupan petani tergantung pada pupuk kimia itu. Kehidupan kaum tani di Indonesia sangat berbeda-beda, dari cara bertani yang sangat sederhana sampai cara yang sangat maju, dari yang belum mengenal cangkul sampai yang menggunakan traktor. Meskipun demikian, tidak ada kaum tani yang tidak terkena akibat industri dan komunikasi modern. Kaum tani sederhana hidup dekat dengan alam. Mereka hidup saling memberi perhatian satu sama lain.

Cara masyarakat mendapatkan sumber dayanya menyebabkan perubahan yang tidak bisa dikembalikan dengan menurunkan proses alamiah yang mendukung kehidupan bumi. Situasi ini akan merusakkan upaya untuk menangani kelaparan, kemiskinan, dan perbaikan kesehatan. Jika dicermati lebih jauh, ternyata manusia saat ini telah mengubah sebagian besar ekosistem secara dramatis pada jangka waktu singkat.

Cara masyarakat menggunakan makanan, air bersih, kayu, serat dan bahan bakar selama 50 tahun terakhir telah menurunkan kualitas lingkungan. Dan, keadaan sekarang kemungkinan akan menjadi hambatan bagi penataan ekosistem yang disepakati para pemimpin dunia di PBB tahun 2000.

Berdasarkan hasil-hasil yang telah dicapai selama ini, ternyata setiap kemajuan yang dicapai untuk mencapai sasaran pengentasan kemiskinan tidak bertahan jika sebagian ekosistem di mana manusia tergantung kepadanya masih akan memburuk.

Sementara itu tujuan kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia tetap berprinsip swasembada pangan, meningkatkan gizi masyarakat menurut ukuran konsumsi protein, meningkatkan ekspor dan mengurangi impor, meningkatkan dukungan erhadap industri, meningkatkan pemeliharaan terhadap kelestarian sumber daya alam (SDA), dan meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan pedesaan sebagai pambangunan yang utuh bagi pembangunan daerah. Semua tujuan ini menjadi unsur-unsur dalam mewujudkan kesejahteraan petani secara merata.

Pengalaman pembangunan pertanian di Indonesia menunjukkan bahwa untuk mencukupi pangan dalam bentuk swasembada beras diperlukan waktu yang cukup lama sampai 25 tahun, dan mengalami pergantian sistem berkali-kali. Program Insus (Intensifikasi Khusus) ternyata tidak berumur panjang (1979-1987) karena dianggap tidak mampu mempertahankan swasembada beras pada tahun-tahun berikutnya. Program Insus disempurnakan menjadi program Supra Insus untuk meningkatkan hasil panen padi lebih tinggi lagi. Program ini tidak terlepas dari penggunaan paket sitosum, ZPT (zat pengatur tumbuh) dan lain-lain.

Sesungguhnya pada saat ini kita dapat belajar dari keberhasilan kita di masa lalu. Namun, juga perlu disadari bahwa tantangannya pun semakin besar, termasuk adanya pengurangan emisi. Terkait hal ini, Indonesia mendapat hibah 80 juta dolar AS dari Climate Investment Fund (CIF). Dengan kucuran dana itu, dalam waktu tiga tahun Pemerintah Indonesia harus melaksaanakan skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan (REDD) plus. Di samping menghambat pemanasan global, pengurangan emisi secara tidak langsung mendorong dan memperbaiki sistem budi daya pangan.

Pada dasawarsa terakhir tampak sistem budi daya pangan telah begitu jauh meninggalkan prinsip-prinsip kelestarian SDA. Revolusi hijau yang mengandalkan penggunaan varietas unggul, pemupukan berat dengan pupuk kimia (pupuk pabrik), pemberantasan hama penyakit dengan obat kimia dan pembangunan fasilitas irigasi, memang telah menunjukkan hasil yang nyata dengan meningkatnya produksi pangan.

Meski demikian ternyata belum mampu mengimbangi laju pertambahan penduduk, di samping hama tanaman masih sering muncul. Indonesia pun kembali mengimpor beras.

Akhir-akhir ini kepedulian masyarakat dunia tentang kerusakan bumi telah meningkat secara drastis. Kerusakan lingkungan akibat perubahan tata kehidupan manusia telah memberikan gambaran keadaan dunia sekarang, demikian juga terhadap lingkungan pertanian. Perhatian terhadap pembangunan pertanian yang berkelanjutan atau pertanian yang lestari ternyata juga semakin meningkat terutama oleh negara maju yang semula sebagai penganjur ditetapkannya pertanian modern di negara-negara sedang berkembang.

Kepedulian lingkungan pada hakikatnya adalah kepedulian terhadap para petani, dan sekaligus terhadap budi daya pangan. Bahkan, berarti peduli terhadap nasib anak cucu kita yang akan menggunakan bumi ini sebagai sumber pangan mereka.

Pembangunan pertanian secara langsung maupun tidak langsung harus memperhatikan lingkungan. Pertumbuhan tidak dapat disebut perkembangan dalam arti sebenarnya, apabila pertumbuhan itu membawa serta kemunduran atau kerusakan alam.

Sebenarnya pembangunan pertanian tidak datang secara mendadak, tetapi melalui proses yang panjang. Apa yang telah dikembangkan di masa lampau merupakan dasar bagi pengembangan di waktu mendatang. Oleh karena itu, setiap kebijakan pengadaan pangan jangan sampai mengorbankan alam, tetapi harus berusaha melestarikannya pula. *** Penulis adalah dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Link : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=280497

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s