Negara-Negara Hutan Tropis SepakatTingkatkan Konservasi

Sumber : Antara
11 Juni 2011

Utusan dari negara-negara yang memiliki hutan tropis terluas di dunia, menyepakati peningkatan konservasi atau perlindungan hutan secara bersama-sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kesepakatan itu dicapai dalam “workshop” peranan kehutanan sosial dalam mitigasi, adaptasi pemanasan global dan perubahan iklim, yang digelar di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, 6-10 Juni 2011.

Sejak tiga tahun lalu, negara-negara yang memiliki hutan tropis terluas di dunia membentuk kelompok Forest Eleven (F11) yang melibatkan 11 negara dan terus mengajak negara-negara lain yang memiliki hutan tropis untuk bergabung.

Kesebelas negara itu yakni Indonesia, Republik Demokratik Kongo, Papua Nugini (PNG), Brazil, Malaysia, Filipina, Kolombia, Kamerun, Peru, Gabon, dan Kosta Rika. Tiga negara yang baru bergabung sejak tahun lalu yakni Guatemala, Guyana dan Suriname.

Sebagian utusan dari kelompok F11 itu menghadiri “workshop” kehutanan sosial yang yang dipusatkan di Hotel Sentosa Villas & Restaurat Senggigi itu.

Usai penutupan “workshop”, Kepala Pusat Kerja sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan DR.Agus Sarsito mengatakan, utusan dari kelompok F11 itu menekankan pentingnya peranan kehutanan sosial di berbagai negara.

“Kehutanan sosial dipandang penting dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi. Sementara insentif tambahan bagi masyarakat dalam mempertahankan dan mengelola hutan mereka yakni perdagangan karbon,” ujarnya.

Kelompok F11 juga menyepakati upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang atau “Reducing Emission from Deforestation and Degradation in Developing Countries” (REDD) plus, dilaksanakan melalui program kehutanan sosial.

REDD merupakan salah satu mekanisme pendanaan hutan yang ramai dibicarakan di forum-forum internasional. Mekanisme ini dianggap kurang sempurna karena deforestasi dan degradasi hutan memang mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tetapi tidak meningkatkan kemampuan hutan itu sendiri untuk penyerapan karbon.

Oleh karena itu muncullah mekanisme REDD-plus yang bukan hanya memberikan insentif untuk pengurangan deforestasi dan degradasi hutan, tetapi juga peningkatan penyerapan karbon melalu konservasi, pengelolaan hutan lestari dan peningkatan cadangan-cadangan karbon hutan di negara-negara berkembang.

Pendanaan untuk kegiatan Aforestasi dan Reforestasi (A/R) sendiri telah lama dikenal melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM).

Kesepakatan lain mengenai peran hutan yang jelas berhubungan dengan penyerapan karbon yaitu perubahan iklim, penyerap karbon dan cadangan karbon.

Hutan memberi banyak manfaat seperti pemandangan indah (eko-pariwisata), perlindungan air (hidrologi hutan), keanekaragaman hayati, sumber kebutuhan, penghasilan dan mata pencaharian untuk adat/asli/masyarakat lokal.

Emisi CO2 dari deforestasi mencapai 20 persen dan untuk mengurangi emisi upaya utama adalah CDM, teknologi hijau, konservasi hutan, aforestasi dan reforestasi, REDD plus.

Kelompok F11 juga mengidentifikasi sejumlah masalah dan tantangan kehutanan sosial seperti pengembangan “Social Forestry” di tingkat kabupaten masih sangat lambat jika dikaitkan dengan amanat kebijakan nasional, dan sering tidak dianggarkan pada tingkat lokal.

Namun, diakui setiap negara berbeda dalam penerapan sistem kepemilikan tanah, seperti kontrol negara yang kuat seperti di Indonesia dan Peru serta kebijakan kontrol masyarakat seperti di PNG.

Secara keseluruhan, keamanan hak-hak masyarakat masih bermasalah, sebagaimana terungkap dalam `workshop` ini, ujar Agus.

Mengenai adaptasi dan mitigasi, kelompok F11 mengidentifikasi masalah pokoknya adalah terputusnya pandangan masyarakat internasional dengan realitas di tingkat lokal.

Misalnya, adaptasi dan mitigasi diperlakukan sebagai dua hal yang terpisah dan pada tingkat lokal praktek dalam kehidupan bermasyarakat seringkali tidak membedakan kedua hal itu.

Disepakati fokus pada pemberdayaan masyarakat bukan pada karbon, tetapi pada pengembangan masyarakat, mata pencaharian, keadilan lingkungan, sangat dipengaruhi oleh keberadaan hutan yang berperan integral.

Kendati demikian, kelompok F11 menilai masyarakat telah mampu mengelola hutan secara lestari, meski dengan model dan pendekatan berbeda seperti dalam pengelolaan hutan adat, hutan swasta, kehutanan sosial di kawasan hutan Negara dan hutan suci.

“Pada intinya, ada aksi tukar-menukar informasi terkait peranan kehutanan sosial atau hutan kemasyarakatan di kalangan negara-negara F11. Kami tunjukkan program yang ada di Indonesia, dan mereka juga menceritakan perkembangan “social forestry” di negara masing-masing,” ujar Agus.

Link : http://id.berita.yahoo.com/negara-negara-hutan-tropis-sepakat-tingkatkan-konservasi-072809869.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s