SIARAN PERS Greenpeace, Walhi, KKI Warsi, Wahana Bumi Hijau

Sumber : Mailisit – 22 November 2011

SIARAN PERS
Greenpeace, Walhi, KKI Warsi, Wahana Bumi Hijau

ENAM BULAN MORATORIUM – APP MASIH TERUS MEMBABAT HUTAN ALAM DAN GAMBUT

Jakarta, 23 November 2011: Aktivis Greenpeace, WALHI, KKI WARSI, dan Wahana Bumi Hijau (WBH) hari ini menyerahkan fakta-fakta penghancuran hutan Indonesia dan meminta pemerintah menelaah kembali izin-izin penebangan hutan yang telah dikeluarkan dan menerapkan kebijakan deforestasi nol.

Penyerahan fakta perusakan hutan tersebut dilakukan oleh aktivis berkostum dan mengendarai motor bercorak harimau kepada Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup dan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum di kantor mereka masing-masing.

Zulfahmi, juru kampanye hutan Greenpeace mengatakan, “Enam bulan setelah moratorium (penghentian sementara) izin baru untuk pembukaan hutan diberlakukan di Indonesia, perusakan hutan masih terjadi. Kami menemukan bukti dan menyaksikan langsung bagaimana Asia Pulp and Paper (APP) meremehkan komitmen presiden SBY dengan terus membabat hutan alam dan gambut, dokumentasi fakta yang kami kumpulkan selama perjalan Tur Mata Harimau pada bulan lalu di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan secara gamblang menunjukkan hal tersebut”.

Selama satu bulan lebih Aktivis Greenpeace, WBH, WARSI dan WALHI melakukan Tur Mata Harimau di Sumatera untuk menjadi saksi dan mendokumentasikan berbagai fakta perusakan hutan sekaligus mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam upaya penyelamatan hutan alam dan gambut Indonesia .

“Perusakan hutan di Jambi tidak hanya berdampak pada kehidupan satwa dan lingkungan namun juga memicu terjadinya konflik sosial dan mengancam kehidupan Orang Rimba. Bagi orang Orang Rimba hutan alam adalah entitas etnis, dan punahnya hutan berarti secara etnis mereka akan hilang. Selama perjalanan, Tim Mata Harimau di provinsi Jambi kami menemukan anak perusahaan dan pemasok APP terus menghancurkan hutan di sekitar kawasan Bukit Tiga Puluh yang merupakan benteng terakhir bagi Orang Rimba. APP harus menghentikan keserakahan mereka merampas kehidupan Orang Rimba” ujar Diki Kurniawan, Manager Program Kebijakan dan Advokasi WARSI.

Melihat fakta-fakta di lapangan yang dipublikasikan selama ini, beberapa pembeli APP telah mengambil sikap untuk menghentikan membeli produk APP. Ini dikarenakan mereka ingin produk mereka lebih ramah lingkungan dan tidak mau terkait dengan deforestasi yang terjadi di Indonesia. Bulan lalu Lego, Mattel, Hasbro dan lain-lain yang merupakan pembeli penting APP menghentikan kontrak mereka dengan APP.

Deddy Ratih, Juru Kampanye Hutan WALHI menambahkan,“Komitmen saja tidaklah cukup, Presiden harus turun tangan langsung menyelamatkan hutan Indonesia dan berhenti melindungi perusahaan-perusahaan penghancur hutan seperti APP”.

Hutan Indonesia berada di ujung kepunahan, termasuk keanekaragaman hayati penting lainnya. Saat ini hanya sekitar 400 ekor harimau Sumatera yang hidup di alam liar. Pemerintah Indonesia memperkirakan lebih dari satu juta hektar hutan Indonesia hancur setiap tahunnya. Dengan laju perusakan seperti saat ini, bencana ekologi siap menerjang. Penghentian penghancuran hutan harus dilakukan sistematis untuk memenuhi komitmen Presiden SBY dalam perlindungan hutan, dan lebih luas lagi, untuk menyelamatkan Indonesia.

Kontak:
Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, 0812 6821214
Diki Kurniawan, Manager Kebijakan dan Advokasi WARSI, 0812 7407730
Deddy Ratih, Jurukampanye Hutan WALHI, 0812 50807757
Hikmat Soeriatanuwijaya, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 0811 1805394

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s