Walhi Khawatir Pertemuan COP 17 Berakhir Buruk

Sumber : Walhi – 30 November 2011

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengkhawatirkan pertemuan COP 17 yang digelar di Durban, Afrika Selatan, yang akan berakhir buruk.

Negara-negara maju dan negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi mengusulkan untuk menunda kesepakatan penurunan emisi GRK sampai dengan tahun 2020.

Sementara inisiatif eropa menginginkan sebuah kesepakatan yang komprehensif pada tahun 2015 dan di-implementasikan pada tahun 2020.

“Sikap Kanada yang menyatakan akan keluar dari Protokol Kyoto yang secara resmi akan diumumkan bulan depan, semakin menambah runyam putaran perundingan,” kata Kepala Departemen Hubungan Internasional dan Keadilan Iklim Walhi, Muhammad Teguh Surya dalam rilis yang diterima Tribunnews, Rabu (30/11/2011).

Teguh mengingatkan, setidaknya ada 3 kekahwatiran utama terkait hasil dari pertemuan COP 17 nantinya, pertama tentang adanya mekanisme pasar yang baru untuk mengakomodir kepentingan industri negara maju.

Kedua, tidak akan ada kesepakatan yang mengikat dan ketiga rendahnya komitmen untuk menyelamatkan iklim bumi.

“Di situasi genting begini seharusnya Indonesia sebagai negara yang digadang-gadangkan sebagai pemimpin penyelamatan iklim harus mengambil sikap yang jelas dan tegas,” katanya.

Pengkampanye Hutan Walhi, Dedi Ratih menegaskan, Indonesia sebagai negara kepulauan besar dan memiliki hutan tropis cukup luas mempunyai posisi kuat untuk memaksa negara-negara industri mengurangi emisinya.

“Namun hal tersebut belum terlihat sampai dengan hari kedua perundingan” jelasnya.

Walhi juga menemukan delegasi Indonesia masih sibuk mengurusi berkas atau dokumen perundingan yang disinyalir mengalami keterlambatan.

Teguh Surya mengatakan, selama ini putaran perundingan hanya dijadikan ajang mencari keuntungan bagi Amerika, Jepang, Kanada dan negara maju lainnya untuk terus mengekspansi industri kotor mereka dan perputaran barang dan jasa yang mereka produksi.

“Tak kalah pentingnya situasi itu juga menguntungkan elite-elite selatan yang korup. Tentu saja hal tersebut harus di lawan karena bumi bukan komoditi, tetapi ruang hidup bagi semua makhluk,” ujarnya.

Pertemuan COP 17, kata Tehuh, harus bisa menghasilkan resolusi iklim yang adil dan proporsional agar bumi bisa diselamatkan.

“Protokol Kyoto harus diselamatkan, penurunan emisi oleh negara maju harus dilakukan secara domestik dan radikal, sumber pendanaan tidak boleh bersumber dari utang dan pasar karbon serta tidak dibenarkan adanya transfer teknologi kotor (biofuel, nuklir, batu bara dan yang sejenisnya) ke negara berkembang dengan kedok pembangunan bersih,” tukas Teguh.

Link : http://www.walhi.or.id/en/occupy-cop17-durban/durban-di-media-massa/1727-walhi-khawatir-pertemuan-cop-17-berakhir-buruk.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s