ARTIKEL : Target WWF di Durban untuk REDD+

Sumber : WWF – 02 Desember 2011

Oleh Iwan Setiawan

Jakarta (01/12)-Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan serta peningkatan cadangan karbon hutan melalui pengelolaan hutan lestari atau yang dikenal dengan REDD + adalah primadona yang bakal banyak dibicarakan dalam COP 17 (Conference of Parties) yang berlangsung di Durban,Afrika Selatatan. Apa itu sesungguhnya REDD+? Beban atau solusi? Bagaimana penerapannya di Indonesia sejauh ini?

Ada yang secara sinis menyebut program REDD+ sebagai tebus dosa negara maju karena telah menyumbangkan Gas Rumah Kaca (GRK) yang tinggi dengan cara memberi kompensasi pada negara berkembang yang relatif masih memiliki hutan yang luas, seperti Indonesia dan Brazil misalnya. Namun kelompok yang optimis, membaca hal ini sebagai peluang dalam memberi semangat untuk menjaga hutan yang sebetulnya, dengan atau tanpa adanya REDD+ perlu dijaga keberadaannya.

REDD+, singkatan dari Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation, merupakan suatu mekanisme global yang bertujuan untuk memperlambat perubahan iklim dengan memberikan kompensasi kepada negara berkembang yang melindungi hutannya. Skema ini mulai menjadi perdebatan yang hangat sejak Papua Nugini dan Kosta Rika menjabarkan proposal pengurangan emisi deforestasi pada diskusi perubahan iklim di tahun 2005.

Indonesia maju untuk memperjuangkan REDD pada konvensi perubahan iklim di Bali tahun 2007, di mana ide tersebut telah berkembang dengan mengikutsertakan isu ‘degradasi hutan’. Berbagai usul penambahan isu tentang agroforestri dan pertanian juga muncul. Skema inipun lalu berkembang menjadi REDD+ Tidak hanya mengurangi emisi dari deforestasi dan kerusakan hutan, tetapi juga meningkatkan penyerapan karbon melalui konservasi dan pengelolaan hutan lestari serta peningkatan cadangan karbon hutan.

Aktivitas REDD+ meliputi empat hal yakni mengurangi penggundulan hutan, mengurangi degradasi lahan, menahan stok karbon serta meningkatkan stok karbon. Pada prakteknya, hal ini sangat tidak sederhana. Tantangan-tantangan besar di dalam mekanisme ini termasuk bagaimana mengukur karbon secara akurat, bagaimana memastikan dana sampai ke komunitas hutan dengan transparan dan efisien, siapa yang akan bertanggung jawab apabila hutan ternyata tetap rusak, hingga sumber pendanaan. Lebih dari 30 model penerapan REDD+ telah diajukan oleh berbagai negara dan organisasi non pemerintah.

Dari dalam negeri sendiri, ketidak jelasan masalah REDD + ini menimbulkan pergesekan dengan masyarakat setempat yang selama ini mengambil manfaat dari hutan tersebut. Kesalahpahaman atau pengertian yang tidak utuh, bisa menjebak REDD+ seolah-olah berebut kepemilikan dengan masyarakat setempat. Hal ini jelas perlu penegasan dari pihak-pihak terkait.

Nyoman Iswarayoga, Direktur Program Iklim dan Energi WWF-Indonesia juga menyatakan bahwa memang bisa saja ada anggapan bahwa program REDD+ ini tidak dirasakan langsung oleh masyarakat kebanyakan. Untuk itu perlu dibangun sejumlah program yang melibatkan masyarakat. Salah satu contoh nyatanya adalah kerjasama pemerintah Indonesia dan Jerman. Dengan Pemerintah Jerman, aktivitas demonstrasi meliputi pengembangan kebijakan yang baik, strategi pengelolaan hutan dan perubahan iklim, serta implementasinya di tingkat kabupaten. Proyek ini juga melibatkan kolaborasi dengan Heart of Borneo (HOB) Initiative, yang difasilitasi oleh WWF-Indonesia. Proyek HoB menerapkan aktivitas demonstrasi di 4 Kabupaten, yang meliputi pengembangan metodologi, penataan institusi, dan keterlibatan dengan masyarakat.

Perlunya menjamin implementasi REDD+ mampu memperbaiki kehidupan masyarakat juga menjadi salah satu seruan WWF pada pertemuan para pihak konvensi perubahan iklim PBB, COP. WWF meyakini bahwa sebagai kunci penanggulangan perubahan iklim, REDD+ harus mampu memberi manfaat tidak hanya bagi alam tetapi juga bagi masyarakat. Pada COP 17 di Durban, Afrika Selatan yang saat ini tengah berlangsung WWF menetapkan empat target kuncinya terkait REDD+ yakni (1) mencukupi kebutuhan pembiayaan REDD+dan memperjelas peran pasar keuangan, (2) menetapkan metodologi REDD+ yang memberikan menfaat terhadap iklim, masyarakat,dan alam, (3) mengadopsi target global untuk mitigasi melalui REDD+ terkait dengan mekanisme pembiayaan jangka panjang, serta (4) menyelesaikan penyebab deforestasi.

Link : http://www.wwf.or.id/?23685/Target-WWF-di-Durban-untuk-REDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s