WWF-Indonesia: Pemerintah RI Punya Banyak “Pekerjaan Rumah” Pasca Durban

Sumber : WWF – 13 Desember 2011

Pertemuan para pihak Konvensi Perubahan Iklim PBB/UNFCCC di Durban akhirnya ditutup dua hari mundur dari jadwal yang ditetapkan. Kesepakatan akhir yang diperoleh dalam pertemuan tersebut belum menjawab kebutuhan adanya komitmen mengikat secara hukum bagi upaya pengurangan emisi, khususnya yang datang dari negara maju (negara-negara Annex 1 Protokol Kyoto) untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 2°C. Bahkan, diproyeksikan, bila keputusan yang ada di Durban sekarang tetap dibiarkan, bumi akan berhadapan dengan kenaikan suhu global hingga 4°C!

Hasil ini bukan kejutan, karena memperlihatkan bahwa walaupun semua negara telah terpapar bukti ilmiah ancaman perubahan iklim yang dahsyat namun rata-rata negara masih didominasi tekanan politik domestik. Bahkan, beberapa negara maju enggan menunjukkan kemauan yang kuat untuk memberikan dukungan terhadap kesepakatan multilateral.

Nyoman Iswarayoga, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia, menyatakan, “Disepakatinya periode komitmen kedua Protokol Kyoto 2013 – 2018 menghapus kegalauan banyak pihak terhadap semangat prinsip common but differentiated responsibilities. Namun, perlu kita catat dengan garis tebal bahwa komitmen kedua ini tidak cukup kuat menghadapi tantangan perubahan iklim, baik untuk negara maju, apalagi negara berkembang. Salah satunya karena belum disertai ‘Quantified Emission Limitation or Reduction Objectives (QELROS)’.”

Hasil dari perhelatan tahunan PBB ini, yang juga disebut Durban Platform, mengoperasionalisasikan Cancun Agreement, termasuk di dalamnya pembentukan Komite Adaptasi, Mekanisme Teknologi, dan Green Climate Fund. “Sayangnya, Durban Platform yang disepakati oleh 195 negara ini hanya mempersiapkan perjanjian global perubahan iklim mengikat berikutnya untuk disetujui tahun 2015 dan dilaksanakan mulai tahun 2020,” tegasnya.

Banyak pihak meninggalkan Durban dengan perasaan kecewa karena lambannya negosiasi dan hasil yang tidak tegas.

Pekerjaan Rumah Indonesia
Terlepas dari hasil negosiasi internasional yang terjadi di Durban, semoga para diplomat dan pembuat kebijakan di semua negara, termasuk Indonesia, memahami perubahan iklim telah membuat ketersediaan kebutuhan dasar hidup kita di planet ini: pangan, air, dan energi, pada titik kritis.

Agar bisa keluar dari skenario “Business-as-Usual”, sangat dibutuhkan komitmen dan aksi nyata yang mampu membawa kita kepada konsentrasi emisi gas rumah kaca yang diharapkan. Tidak cukup hanya peduli. Oleh karena itu, menuju Pertemuan Para Pihak mendatang di Qatar (COP 18), seharusnya segala tahapan pembicaraan dari Durban tidak hanya memunculkan harapan besar atau wacana saja, namun mendukung terselesaikannya pekerjaan rumah yang dibawa pulang ke Indonesia.

Contohnya, Nyoman mengingatkan beberapa hal sehubungan dengan kemajuan dalam negosiasi REDD+:
1. Untuk implementasi atau operasionalisasi penuh, perlu dipersiapkan dulu instrumen atau elemen infrastruktur dasarnya yaitu Strategi Nasional, termasuk di dalamnya REL/RL, MRV, dan sistem informasi pengaman (safeguard).
2. Indonesia juga masih harus melanjutkan usaha menerapkan komitmen sukarela yang sudah tertuang melalui Perpres No. 61/2011 tentang Rencana Aksi Nasional Gas Rumah Kaca (RAN GRK), sehingga kelanjutan dan kepastian dari berbagai proyek awal REDD+ ini ada.
3. Melalui berbagai program nyata REDD+ dan RAN GRK, Delegasi RI (DELRI) sekiranya bisa berperan penting pasca Durban dengan menggunakan kepemimpinannya mendorong para pihak, khususnya negara maju untuk mewujudkan komitmen mereka.

Sedangkan untuk adaptasi, Nyoman menambahkan pentingnya Strategi Adaptasi Nasional/RAN API,serta bagaimana Indonesia memanfaatkan keberadaan Komite Adaptasi dan Adatation Fund untuk meningkatkan ketahanan kita terhadap ancaman perubahan iklim.

Menghadapi ancaman dampak perubahan iklim diperlukan aksi kolektif antar sektor. Hanya dengan demikian kita mampu mengamankan kenaikan suhu bumi di bawah ambang batas yang mengancam kepunahan kehidupan, yaitu di bawah 2°C.

Narasumber:
1. Nyoman Iswarayoga, Direktur Program Iklim dan Energi WWF-Indonesia,email: niswarayoga@wwf.or.id
2. Iwan Wibisono, Koordinator Kebijakan Iklim terkait Hutan, Program Iklim dan Energi, email:iwibisono@wwf.or.id
3. Rini Astuti, Koordinator Kebijakan, Program Iklim dan Energi,email: rastuti@wwf.or.id

Kontak Media, Foto, & Video:
Verena Puspawardani, Koordinator Kampanye, Program Iklim dan Energi,email: vpuspawardani@wwf.or.id

Catatan untuk Editor:
Tentang WWF- Indonesia
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta suporter dan memiliki jaringan di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan.Untuk informasi selengkapnya mengenai WWF, silakan klik www.wwf.or.id

Link : http://www.wwf.or.id/?23860/Pemerintah-RI-punya-banyak-pekerjaan-rumah-pasca-Durban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s